A+ A- [A]
Welcome, Guest. Please login or register.
May 19, 2012, 11:52:23 AM

Login with username, password and session length
Pages: 1 2 3 [4]   Go Down
  Print  
Author Topic: takut komitmen  (Read 7589 times)
0 Members and 2 Guests are viewing this topic.
Xammy
I am Sam
Administrator
Jendral
*****

Kurma: +34/-0
Offline Offline

Location: it's complicated
Posts: 701


Biang OOT

sammy.kristiyanto
WWW
« Reply #30 on: May 16, 2007, 03:14:50 PM »

gue pernah HTS sama cewe (iyalah, lu kira gue homy), meskipun dari awal udah ada "kesepakatan" tetep aja dia ga terima waktu gue bilang gue mau serius sama cewe yg satunya.
HTS juga, karena gue yakin hubungan gue ga bakal berlanjut lebih dari itu. Meskipun keluarganya baek banget sama gue, memandang gue sebagai cowo yang bisa diandalkan untuk jadi kepala keluarga, tapi tetep ada hal2 principil yang jadi halangan, dan gue gak mau menuntut sampai sejauh itu.

cuma yang bikin gue heran, dari beberapa cewe yg gue ajak HTS-an, dari awalnya tau dan sadar konsekuensinya, dan gue juga udah ngomong berulang-ulang kalo ini cuma HTS, lu mau jalan sama cowo lain OK, mau serius sama cowo lain jg ga masalah. Sementara gue juga masih blom serius sama cewe lain ya udah, kita jalan aja.
Tapi yang ada, mereka membawa semua pake perasaan. Jadi begitu gue cerita ada cewe lain selain dia, dia ga bakal terima.
Yah.. jadi deh, berakhir seperti di sinetron2, penuh tangis dan airmata, hehehehe

glossary:
HTS dalam term ini adalah Hubungan Tanpa Status seperti yang dikenal umum.
sedangkan HTS yang disebut "Hubungan Tanpa Sebab" adalah yang biasa kita temukan di pinggir jalan, club2 malam, atau warung remang2, meskipun pada akhirnya mempunyai sebab-akibat secara ekonomi.
Logged

-------------------------------

Enjoying Loneliness
Sailor_moon
Master
****

Kurma: +10/-0
Offline Offline

Posts: 350


dengan kekuatan bulan akan menghukummu...!!!

nitz_0301@yahoo.com
WWW
« Reply #31 on: May 16, 2007, 03:32:45 PM »

yup.. gw kan pernah bilang tuh untuk masalah hubungan dengan lawan jenis cewek itu lebih pake perasaan,or lebih gampang kebawa perasaan.. ga semua cw sii.. tapi mostly gt lah.. (IMO ya) makanya sebelum HTS-an kenali dulu calon HTS-an lo itu, tipe manakah dia.. apa yang easy going atau easy loving?biar ga ada adegan sinetron pada akhirnya hehehe...

Logged

sometimes things don't work out the way you thought they would
Xammy
I am Sam
Administrator
Jendral
*****

Kurma: +34/-0
Offline Offline

Location: it's complicated
Posts: 701


Biang OOT

sammy.kristiyanto
WWW
« Reply #32 on: May 16, 2007, 04:27:59 PM »

kembali ke topic.

yah.. mungkin kalo dulu masih single, ga ada tanggung jawab terhadap pasangan, sah-sah aja kalo HTS-an, sambil mencari pasangan yang tepat.
Asal jangan kelewatan aja, jadinya malah takut komitmen, seperti beberapa temen gue yang sampe sekarang blom kawin2 juga, padahal pacaran udah tahunan.
ada yang merasa ga siap mental dan psikologis.
ada yang merasa ga siap secara financial.
ada juga yang merasa belum yakin dengan pasangannya, padahal udah pacaran lebih dr 5 tahun
blom lagi liat infotainment isinya perceraian, ribut dalam keluarga, malah bikin mengecilkan arti keluarga itu sendiri.
seakan-akan berkeluarga adalah keputusan yang setiap saat bisa dirubah, kondisi yang setiap saat bisa diganti.
Pasangan (suami/istri) tak lebih seperti partner bisnis, kalo udah gak cocok atau menguntungkan, ya udah pisah aja trus ganti yang lain.
ditambah lagi segala macam alasan kenapa harus cerai, kenapa musti pisah. seakan-akan mencari pembenaran diri, yang pada akhirnya membentuk opini dan inilah yang diserap masyarakat sekarang.

ketakutan yang muncul disini adalah, takut berkomitmen kalau pada akhirnya harus putus ditengah jalan.

Di sisi lain, pada saat memutuskan untuk menikah, dan membuat komitmen dihadapan Tuhan (secara agama, kalo di agama gue ada namanya janji pernikahan yang diucapkan) dan dihadapan manusia (secara hukum).
Jelas, namanya janji yang diucapkan dengan sakral dihadapan Tuhan dengan banyak manusia sebagai saksinya, adalah merupakan tanggung jawab seumur hidup.
Jadi menurut gue nggak ada alasan untuk melanggar janji yang udah diucapkan sendiri dengan penuh kesadaran (keluali lu lagi sakaw waktu ngomong itu).

nah, dari sini juga muncul ketakutan,
takut memikul tanggung jawab untuk komitmen yang udah dibuat

Logged

-------------------------------

Enjoying Loneliness
alfaharahap
Master
****

Kurma: +13/-0
Offline Offline

Location: tempat paling rindang di jakarta
Posts: 398


alfaharahap
WWW Email
« Reply #33 on: May 19, 2007, 07:54:50 PM »

well sekedar sharing aja sekalian minta masukan..
sekarang ini gw perhatiin ko makin banyak orang yang takut sama komitmen ya... dilingkungan sekitar gw contohnya, ya temen2 deket gw sendiri sii mereka semua takut banget sama yang namanya komitmen.. lebih suka yang HTS-an gt.. kenapa ya?apa udah mulai ketularan gaya hubungan orang luar sana kali ya...

gw jadi ngebayangin.. apa jadinya kalo emang lembaga perkawinan udah ga dipercaya lagi di indonesia... apa kata dunia...

di jepang pun, generasi mudanya mulai pada menghindari pernikahan, karna alasan karir. berkeluarga hanya akan menghambat karir mereka, itu menurut mereka. pemerintah jepang pun rada khawatir dgn pemikiran ini. gua rasa disini pun demikian. ini ga lain karna kerjaan itu sendiri yg menuntut kesempurnaan dari karyawan yg bersangkutan. seperti misalnya di koran sering ditemukan perush. mencari karyawan dgn usia dibatasi, status belum menikah, bersedia ditempatkan dimana saja. hal2 seperti ini akan memberatkan bagi mereka yg sudah menikah.

dan efek berikutnya, karna tuntutan pekerjaan pula yg membuat orang adakalanya kesulitan membina hubungan rumah tangga yg baik. perceraian sering terjadi karna pasangan yg sibuk dgn karir masing2. dunia pekerjaan dgn tuntutan yg begitu tinggi, menyebabkan waktu seorang individu lebih banyak tercurah utk pekerjaannya ketimbang utk rumah tangganya. dlm kondisi begini, hts (hubungan tanpa status) jadi terasa lebih menyenangkan dan lebih mudah.

pernikahan memang jadi terlihat begitu rumit dan begitu mahal, dan begitu mengikat seseorang. bagi gua pribadi, memang semua kembali ke kebutuhan masing2 juga, mereka maunya gimana. pernikahan justru menstabilkan jiwa gua yg gelisah (ceilee .. ) karna akan slalu ada seseorang buat gua ketika gua pulang kerja misalnya, hal yg blum tentu lu dapetin kalo lu menjalani hts.

Hts juga beresiko tinggi, apabila dibarengi dgn seks bebas. siapa yg mau tanggung jawab kalo ada apa2 dgn pasangan wanitanya yg tiba2 hamil ? karir boleh sukses, tapi bagaimana dgn masa tua yg harus kita jalani nantinya ? siapakah yg akan mendampingi kita kalo pasangan2 yg kita punya semuanya  hts yg emang nomaden sifatnya ?

tapi lagi2 semua balik ke individu2 yg terkait.
Logged

So understand
Don't waste your time always searching for
those wasted years
Face up... make your stand
And realise you're living in the golden years
franhealy
Global Moderator
Master
*****

Kurma: +32/-0
Offline Offline

Location: +++
Posts: 510


« Reply #34 on: May 22, 2007, 05:58:12 PM »

kembali kepada topik, menurut gw takut komitmen itu gak melulu berimbas pada hts atau selingkuh. ada juga yg jadi menutup diri dari lawan jenis.

menutup diri dari lawan jenis dan menerima sesama jenis?
homo dong yas?
ahahaha...

 Shocked
Logged
franhealy
Global Moderator
Master
*****

Kurma: +32/-0
Offline Offline

Location: +++
Posts: 510


« Reply #35 on: May 22, 2007, 06:07:29 PM »

gw vote jadi moderator curhat mendampingi aan. jadi imbang ada cewe ada cowo. admin, gimanaaa?

boleh aja sih kalo dr gue. secara gue jadi moderator tapi juga gak sempet terus memantau, apalagi di malam hari/ haha. admiin, diset! Ngikik
Logged
Pages: 1 2 3 [4]   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by SMF 1.1.4 | SMF © 2006, Simple Machines LLC
Seo4Smf v0.2 © Webmaster's Talks

Novelty design by Bloc | XHTML | CSS
Page created in 0.066 seconds with 21 queries.