A+ A- [A]
Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 10:54:05 PM

Login with username, password and session length
Pages: 1 2 [3]   Go Down
  Print  
Author Topic: Antara Pedagang Kaki Lima dan Trotoar  (Read 4799 times)
0 Members and 2 Guests are viewing this topic.
Bigmac
Moderator
Master
*****

Kurma: +12/-0
Offline Offline

Location: Selatannya Selatan Jakarta
Posts: 367


oldies freak

adezigh
WWW
« Reply #20 on: April 19, 2007, 12:35:35 AM »

Cina banyak penduduknya, dan pemerintahnya juga pusing kali tuh mikirin penduduk yang dah 1 milyar lebih. Selain itu manula-nya kan banyak banget di sana.

Untuk negara seperti Cina, pemerintahan komunis itu cocok. Kenapa? Karena dengan begitu banyaknya penduduk, pemerintah tidak kesulitan mengatur manusianya. Lha wong kader-kader di sana mulai dari kota ampe pelosok desa didoktrin oleh Partai Komunis, faham komunis dan aturan partai. Jadi kalo sang ketua bilang "A" semuanya kudu nurut. Melawan berarti siap menghadapi hukuman, dan gak peduli alasannya apa (liat deh koruptor-koruptor di Cina yang udah pada ditembak mati). Beda ama demokrasi, beda pendapat itu wajar demi kemajuan dan hak asasi manusia Tongue .

Di Amerika demokrasi cocok. Karena orang-orang yang tinggal di sana bukan asli dari Amerika. Mereka kan orang-orang tertindas dari Eropa. Mereka bikin hukum yang mereka sepakati bareng-bareng. Termasuk hukum yang berlaku di tiap negara bagian.

Lhaa.. kalo di Indonesia? Demokrasi belon bisa sepenuhnya jalan *IMHO*.. masih ada pertimbangan-pertimbangan lain. Utamanya, karena ditimbang dengan hati nurani dan melihat keadaan. Bayangin deh, kalo misalnya peraturannya dibuat strict.. Gak pake safety belt didenda sekian juta, huaahh.. mana mau orang indonesia bayar.. pasti banyak alasan pas ditilang polisi ketauan gak pake safety belt.

Sekarang kan tinggal bagaimana kita sadar untuk mentaati peraturan Smiley . *Peraturan dibuat untuk dilanggar... astagaaa... hayo bertobat*.
Logged

“I know but one freedom and that is the freedom of the mind”
denial
Dewa Blog
******

Kurma: +16/-0
Offline Offline

Location: the Dawn
Posts: 944


blajar njepret yuqq

eastnee
WWW
« Reply #21 on: April 19, 2007, 06:52:12 AM »

Sori OOT, tapi emang kalo di Indonesia misalnya kita kena tilang gara-gara ga make helm/ngelawan jalur/kaca spion kurang biasanya malah kita yang nyalahin polisi. Biasanya nuduh polisi nyari duit. Padahal kenapa nggak ngikutin peraturan aja, supaya ga jadi ajang nyari duit tuh polisi..
Logged

Blajar Njepreeeeet yuuuuuqqq
franhealy
Global Moderator
Master
*****

Kurma: +32/-0
Offline Offline

Location: +++
Posts: 510


« Reply #22 on: April 19, 2007, 10:14:08 AM »

Cina banyak penduduknya, dan pemerintahnya juga pusing kali tuh mikirin penduduk yang dah 1 milyar lebih. Selain itu manula-nya kan banyak banget di sana.

Untuk negara seperti Cina, pemerintahan komunis itu cocok.

cocok untuk menyebarkan penduduk ya?
gue baca artikel tentang Tibet di Rolling Stone. sekarang Tibet udah ada jalur kereta api. kuil2 mulai digusur untuk dijadikan tempat usaha. orang2 cina imigrasi kesana. penduduk aslinya tersodok ke pinggiran. mungkin sama kayak org betawi di jakarta. bedanya kalo di jakarta, org betawi masih bisa nyewain tanahnya dan dapet duit disana, tapi kalo di Tibet rahib2 itu pada digebukin buat nyerahin tanahnya.

intinya sih sama aja. kebanyakan penduduk, membuat elo mencari lahan yang lebih luas untuk hidup dan memenuhi kebutuhan ekonomi. bahkan sampe mecaplok tanah orang. gue bilang sih KB tuh udah bener banget. malah kata temen gue, sebaiknya sih kita berhenti berkembang biak. Grin
Logged
ikez
Global Moderator
Master
*****

Kurma: +12/-0
Offline Offline

Location: Bandung - Jakarta
Posts: 385


Mikkel Demon

mikkel_demon
WWW
« Reply #23 on: April 21, 2007, 02:30:43 PM »

Bok, sepertinya ga ada habis2nya.

Bisa dimulai dari atas, yaitu pemerintah bener-bener menjalankan peraturan yang sudah ada, dan tidak dilakukan dengan cara yang represif, carikan solusi yang baik bagi mereka yang mencari nafkah dengan berdagang spt itu.

Jika benar-benar dijalankan dengan baik serta dengan aparat yang sudah siap pula, gue rasa persoalan ini pun bisa diselesaikan.

Bagaimana mereka (pedagang) bisa menghormati peraturan, jika aparatnya pun tidak siap dan bobrok juga, bahkan suap sana sini? Jika tidak ada ketegasan, maka yang terjadi adalah ya begitu. Ga bisa disalahkan sepenuhnya juga mereka berjualan, mereka juga merasa punya hak untuk mencari nafkah, meskipun melanggar atau merugikan pihak lain seperti pengguna jalan.

Kalau peraturan dan aparatnya tegas, bersih dari hal2 yang bobrok, insya Alloh bisa terjadi ketertiban di tempat-tempat yang rawan PKL tsb. Dan juga jangan hanya maen bantai sana sini, jangan lupa dengan mempertimbangkan pendekatan-pendekatan yang tepat dan baik untuk menghadapi para PKL. Jika memang masih ngeyel dan memang salah di sisi PKL-nya, ya tindakan sedikit keras apa boleh buat.
Logged

Pak Kaduk menghisap candu. Peluh keringat jari kematu. Di mana duduk di situ merindu. Hanya teringat pada yang satu.
Pages: 1 2 [3]   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by SMF 1.1.4 | SMF © 2006, Simple Machines LLC
Seo4Smf v0.2 © Webmaster's Talks

Novelty design by Bloc | XHTML | CSS
Page created in 0.05 seconds with 20 queries.